Rabu, 10 September 2014

Data Penting Bagi Pelaku Usaha Retail

Data ini sangat penting juga bagi kita yang sedang bergelut dengan dunia Retail, yang akan mencoba untuk memulai dan yang sudah berdarah-darah dalam melakukan bisnis ini.
Pejabat Bank Indonesia,  Solihin M Juhro sebagai Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Monoter mengatakan,
Perekonomian global belum kondusif dan masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan sehingga perlu penyesuaian ekonomi dalam negeri.
Menurut Solihin pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkiran sebesar 5,5-5,9 persen. Sedangkan pada tahun 2014 diperkirakan mencapai 5,8-6,2 persen. “Pertumbuhan ekonomi tahun 2013 ini melambat, dan pada tahun 2014 diperkirakan meningkat karena didorong kondisi global yang kondusif dan permintaan domestik yang baik,” katanya.
Akan tetapi di beberapa sektor industri tertentu justru mengalami tingkat stabilitas yang konsisten seiring dengan perilaku konsumen kelas menengah yang terus menggeliat naik. Salah satunya adalah sektor ritel, seperti yang dilakukan riset AC Nielsen,
Pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia dalam kurun 2012-2020 diperkirakan mencapai 174%. Hasil survei AC Nielsen menunjukkan 48% dari total belanja fast moving consumer goods (FMCG) berasal dari masyarakat kelas menengah.

Sejalan dengan Nielsen, survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan indeks keyakinan konsumen (IKK) Indonesia periode Oktober 2013 mulai menguat ke level 109,5 setelah mengalami tren perlambatan selama tiga bulan terakhir pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni 2013 lalu.
Pengaruh Pemilu 2014 pada semester pertama, juga akan mempengaruhi sektor konsumsi. Ini diakibatkan meningkatnya order barang-barang kebutuhan Pemilu seperti kaos, spanduk, belanja iklan dan isu “uang panas” pemenangan Pemilu. Sehingga bila pasca Pemilu terjadi stabilitas politik yang aman, maka sektor konsumsi makin menggeliat dengan mendekatnya tahun ajaran baru dan awal Ramadhan.
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan, pada 2013 ini, omzet ritel modern diperkirakan tumbuh 10% – 11%, dengan total penjualan mencapai Rp150 triliun. Pertumbuhan sektor ritel pada 2014 diperkirakan meningkat dari tahun ini sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih baik.
Pertumbuhan ritel modern terutama terjadi pada format minimarket, convenience store, danhypermarketShare perdagangan FMCG minimarket mengalami kenaikan tertinggi, yaitu dari 5% pada 2002 menjadi 21% pada 2011. Format minimarket, termasuk convenience store, mengalami perkembangan yang sangat pesat, didorong oleh ekspansi usaha Alfamart dan Indomaret yang menguasai sekitar 88% pangsa pasar pada format ini.
Sehingga pada tahun 2014, pertumbuhan sektor ritel masih didominasi oleh format minimarket yang tumbuh subur. Akan tetapi tantangan minimarket juga tidak sedikit, yakni terkait regulasi. Pada 2012 lalu, Kementerian Perdagangan merilis revisi aturan penyelenggaraan waralaba melalui Permendag No 68/M-DAG/PER/ 10/2012 tentang waralaba untuk jenis usaha toko modern. Dalam regulasi ini, pemberi waralaba dan penerima waralaba untuk jenis usaha toko modern dapat mendirikan gerai yang dimiliki dan dikelola sendiri paling banyak 150 gerai. Selain itu regulasi pendirian toko minimarket juga dibutuhkan syarat ijin toko modern selain SIUP. Bahkan dibeberapa daerah tingkat 2 sudah berani menolak dan bahkan menutup minimarket yang tidak berijin toko modern. Hal lain tantangan format ritel adalah kenaikan UMP yang makin tinggi terutama di daerah Jabodetabek, sehingga dengan tingkat profit margin 8-10% tidak mencukupi dan bahkan merugi. Sehingga banyak melakukan penetrasi pengembangan diluar kota Jakarta dan kota daerah tingkat 1 sebagai alternatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar